Tapanuli.online – Aksi unjuk rasa ribuan warga yang menuntut penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL) di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, berakhir tanpa kehadiran Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution. Saat massa menunggu untuk berdialog, Bobby diketahui tengah berada di Jakarta menghadiri upacara peringatan Hari Pahlawan bersama Presiden Prabowo Subianto.
Sejak pagi, ribuan warga dari berbagai kabupaten di Sumatera Utara memadati halaman Kantor Gubernur. Mereka membawa spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah provinsi serta desakan agar PT TPL segera ditutup.
Dalam orasi yang disampaikan, peserta aksi menilai keberadaan PT TPL telah menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, khususnya di wilayah sekitar operasi perusahaan. Mereka menuding perusahaan bubur kertas tersebut telah merusak lingkungan dan mengabaikan hak-hak masyarakat adat.
“Keluar kau, Bobby! Kantor Gubernur ini dibangun dari uang rakyat, bukan uang TPL. TPL bukan hanya harus ditutup, tapi juga diusir dari tanah Batak,” teriak salah satu orator melalui pengeras suara di tengah kerumunan massa.
Aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 2025 itu juga diwarnai dengan nyanyian lagu O Tano Batak yang dilantunkan dengan semangat di depan gerbang Kantor Gubernur. Meski diwarnai kekecewaan karena tidak satu pun pejabat tinggi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menemui massa, aksi tetap berlangsung damai.
Koordinator aksi, yang enggan disebutkan namanya, menegaskan bahwa tujuan utama unjuk rasa adalah mendesak Gubernur Bobby Nasution mengambil langkah tegas menutup PT TPL.
“Kami datang ke sini supaya Gubernur mendengar langsung jeritan rakyat. Tapi beliau justru tidak ada di tempat. Ini bentuk kekecewaan kami,” ujarnya.
Sementara itu, informasi dari Biro Humas Pemprov Sumut menyebutkan bahwa Bobby Nasution pada hari yang sama berada di Jakarta untuk menghadiri upacara Hari Pahlawan di Istana Negara. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan sepuluh tokoh yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun 2025.
Hingga sore hari, massa masih bertahan di depan Kantor Gubernur sambil terus menyerukan tuntutan agar pemerintah meninjau ulang izin operasi PT TPL. Aksi sempat diwarnai pembakaran ban kecil di depan pagar kantor, namun situasi tetap kondusif di bawah pengawasan aparat kepolisian.
Sejumlah pengunjuk rasa menilai ketidakhadiran Gubernur menunjukkan kurangnya keberpihakan terhadap masyarakat terdampak aktivitas perusahaan tersebut. Mereka mengancam akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar jika tuntutan tidak direspons.
“Kami akan datang lagi. Kalau pemerintah tak berani menutup TPL, rakyat sendiri yang akan menutupnya,” seru salah seorang pengunjuk rasa sebelum massa membubarkan diri menjelang malam.



