Tapanuli.online – Dari Danau Toba hingga pesisir Batu Bara, berbagai program konservasi dijalankan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam.
Di balik aktivitas produksi aluminium, ada pekerjaan lain yang terus dilakukan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM). Bukan soal mesin atau pabrik, melainkan menjaga alam agar tetap lestari.
Bagi perusahaan ini, keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana industri terus berkembang. Menjaga lingkungan juga menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, berbagai program konservasi dijalankan, mulai dari pelestarian hutan, perlindungan satwa, rehabilitasi kawasan pesisir, hingga menjaga Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba.
Di tengah isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin menjadi perhatian dunia, INALUM memilih mengambil langkah pencegahan. Sebagai perusahaan pengolahan aluminium yang tidak melakukan kegiatan penambangan secara langsung, perusahaan lebih fokus menjaga ekosistem sebelum mengalami kerusakan.
Pendekatan ini berbeda dengan perusahaan tambang yang umumnya melakukan pemulihan lahan setelah aktivitas penambangan selesai. INALUM justru berupaya menjaga keseimbangan alam sejak awal agar lingkungan tetap terpelihara.
Komitmen tersebut juga dijalankan dengan mengacu pada berbagai aturan pemerintah mengenai konservasi energi, perlindungan lingkungan hidup, dan penilaian kinerja lingkungan perusahaan melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER).
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memetakan berbagai jenis tumbuhan dan satwa di sekitar wilayah operasional perusahaan. Pemetaan ini menjadi dasar untuk mengetahui spesies yang perlu mendapat perhatian khusus, terutama yang masuk dalam daftar perlindungan nasional maupun internasional.
Di kawasan pesisir Batu Bara, perusahaan juga melakukan rehabilitasi habitat di Pantai Sejarah dan Pantai Perjuangan. Upaya ini bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di kawasan tersebut.
Sementara itu, di kawasan Danau Toba, INALUM bersama PT PLN Indonesia Power (PJT I) menjalankan sejumlah program konservasi sepanjang 2025. Program tersebut meliputi pembangunan 10.000 biopori, 500 sumur resapan, dan 15 sumur injeksi untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.
Selain itu, dibentuk pula tiga kebun bibit rakyat dengan kapasitas produksi sekitar 150 ribu bibit setiap tahun. Perusahaan juga mengembangkan pembibitan modern yang mampu menghasilkan hingga 500 ribu bibit per tahun. Di bidang pendidikan lingkungan, sebanyak 15 sekolah dilibatkan dalam program sekolah peduli lingkungan.
Program penghijauan juga terus diperluas melalui penanaman pohon di lebih dari 1.000 hektare lahan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan Daerah Tangkapan Air Danau Toba yang memiliki peran penting sebagai sumber cadangan air.
Dalam proses produksinya, INALUM juga semakin banyak memanfaatkan energi bersih yang berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pada 2025, penggunaan energi bersih mencapai 95,51 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 94,29 persen.
Sejak 2018, perusahaan juga telah melakukan reboisasi di kawasan Daerah Tangkapan Air Danau Toba dengan luas lebih dari 2.300 hektare. Berbagai program efisiensi energi juga terus dilakukan untuk membantu mengurangi emisi karbon.
Tidak hanya itu, selama periode 2018 hingga 2025, sekitar 1.934 hektare lahan telah ditanami pohon. Salah satu hasilnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kehati Paritohan seluas empat hektare yang ditanami berbagai tanaman khas seperti kemenyan, suren, dan andaliman.
Kawasan tersebut juga dilengkapi dengan biopori, sumur resapan, kolam ikan, hingga penangkaran rusa. Selain berfungsi sebagai ruang hijau, lokasi ini dimanfaatkan sebagai tempat edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Di wilayah pesisir Batu Bara, INALUM juga terus mengembangkan konservasi mangrove. Sepanjang 2025, sebanyak 15 ribu bibit mangrove ditanam bersama masyarakat melalui Program Pohon Asuh serta bekerja sama dengan kelompok tani dan nelayan.
Penanaman mangrove ini diharapkan dapat membantu mengurangi abrasi, menjaga habitat biota laut, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan pesisir.
Perhatian perusahaan juga diberikan pada keberadaan burung migran yang setiap tahun singgah di pesisir Batu Bara. Berbagai kegiatan seperti edukasi kepada masyarakat, pengamatan burung (bird watching), hingga sosialisasi aturan perlindungan burung air migran dilakukan untuk menjaga keberlangsungan habitat satwa tersebut.
Melalui berbagai program itu, INALUM ingin menunjukkan bahwa kegiatan industri dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. Pertumbuhan perusahaan, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian alam diyakini dapat saling mendukung apabila dikelola secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau masyarakat. Dunia usaha juga memiliki peran penting. Melalui berbagai langkah konservasi yang dijalankan, INALUM berupaya menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari hasil produksinya, tetapi juga dari kontribusinya dalam menjaga alam untuk masa depan.(**/arjuna)
